The First #4 (My Mine)

kyuyoung

Author : Puppy_Ky/ @realme90

Length: Chapter

Genre : Romantic, Family, Friendship

Main Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun

Supporting Cast : Lee Hyukjae, Choi Siwon, Choi Soojin and other

Rating: PG-16

Disclaimer: FF ini terinspirasi dari Film-film dan Novel-novel yang sering saya tonton dan baca..terutama beberapa karakter tokohnya yang cocok dengan Kyuyoung ^^

Tapi Alur, Plot dan dialognya original from my mind😀, termasuk PC, tenaga listrik, tangan buat ngetik, tagihan Speddy dan cemilan-cemilan pas ngetik FF ini semua milik saya :p

 

Gomen..untuk part #4 yang telat ini ^^v .. Biasa orang sok  sibuk makanan sehari2nya tugas dari dosen kekeke #ILoveMyLecture ^^ Selain itu KNIGHTdeul juga pasti tau, kemarin2 terlalu banyak event yang harus di mata-matai..yups SMTown Beijing and Tokyo dan hasilnya…sangat memuaskan!! 2X HI5 meeeen..Kyuyoung emang bisa aja bikin shippernya gemes kekeke

Part #4 ini aku dedikasiin buat KyuKyu yang semakin unyu #DijambakJjong dan juga SooSoo yang semakin wise!!

Dan untuk Readerdeul semua…Happy reading and get your feel..Arigatou😀

 

Setelah semua surga yang kunikmati bersama Sunrise di suitenya, yang benar-benar menakjubkan seperti rekomendasinya. Aku kembali ke dunia nyata. Intervensi eonniku yang tiada akhir.

“Kau benar-benar kembali ke suite itu? Great.Gadis pintar.Lalu, sekarang bagaimana pandanganmu tentangnya?”  Soojin eonni bertanya pura-pura bodoh. Dia tau aku pasti akan kembali kesuite itu.Dasar.

Dan membuat sarapan tanpa celotehannya akan sangat aku rindukan, jika suatu saat kami menempuh hidup masing-masing. Maksudku, berkeluarga atau hal lain yang bisa memisahkan kami. Aku tak ingin memikirkannya saat ini.

“Pandangan yang seperti apa maksud eonni?”

Teh herbal China favoriteku kuaduk 4 putaran.

“Ayolah kau tau itu, nona Choi” ucapnya sambil membalik pancake sarapanku.

“Aku menerima tawarannya untuk sebuah makan malam permintaan maaf, itu pandangan terbaruku padanya”

“Hanya untuk minta maaf, dia mengajakmu makan malam? Damn, dia memang bujangan paling menakjubkan di kota ini”

Dia memang seperti itu. Aku memutar mata jengah.

“Eh~ Permintaan maaf? Memang apa yang terjadi antara kalian yang tidak kuketahui?” lanjut Soojin eonni mengambil tempat duduk tepat berhadapan denganku dan memicingkan matanya curiga. Introgasi dimulai.

“Emm ia minta maaf karena..eonni pasti tau alasanku mengembalikan hanbok darinya,barang  itu masih terlalu wah untuku. Jadi dia berusaha mentoleransi ketidak nyamananku menerima hadiah darinya dengan sebuah permintaan maaf”

Seperti yang kubilang, aku tak mungkin menceritakan hadiah lain yang ia tawarkan kepadaku; soal kepemilikan suite dan alasan dibalik itu semua yang bermula dari kejadian ditangga dan kebiasaan kronisnya yang suka menghambur-hamburkan harta untuk seorang wanita..yang membuatnya tertarik. Dan aku ada diposisi itu.

“Masih karena itu? Ya tuhan, adikku yang manis, dengar..dia memang kaya raya; ingat ia seorang pewaris tunggal Cho Hotel and Resort, jadi wajar saja hadiah yang ia berikan bernilai fantastis seperti itu” eonniku tampak tak habis pikir dengan jalan pikiranku dan dengan sadis ia lampiaskan dengan memotong geram pancake dihadapannya.

“Dan kenapa aku harus menerimanya? Aku tak ada hubungan apa-apa dengannya”

Oke, bohong. Jelas-jelas ia yang telah menolongku, hubungan antara korban dan penolong yang terlalu dermawan lebih tepatnya. Lalu apa?

“Sudah kubilang ia suka padamu. Tertarik padamu” ia memelas memberi pemahaman padaku. Aku paham tapi tetap tak bisa begitu saja menerima alasan konyol itu.

Kembali lagi pada topik itu. Aku tau dia tertarik padaku, mengingat ia dengan jujur mengatakannya kemarin. Tapi tetap saja ketertarikan yang ia tunjukan dengan caranya yang tak biasa membuatku berfikir seribu kali menerima ketertarikan itu. Kami baru saling mengenal, masih banyak hal yang tak kuketahui dari dirinya. Dan ia sudah mengeluarkan lebih dari 1 juta KRW hanya untukku..Hell ya, jalang macam apa diriku bila mau menerimanya.

 “Dan Kapan itu?”

Cih. Antusiasnya kembali dengan cepat. Seperti biasanya, kalau hal itu berhubungan dengan presiden cho si gila kerja itu.

“Besok malam”

“Bagus. Kau dan dia berhak mendapat kesempatan, Soo”

“Ini tak seperti apa yang eonni bayangkan” kali ini aku yang memelas tak suka pada kesimpulannya.

Dia ini, kadang terlalu kolot dalam berfikir. Selalu menganggap namja yang mengajaku makan atau pergi sebagai indikasi rasa suka..walau kali ini memang benar adanya. Tapi tetap saja..

“Kau selalu berbicara begitu, setiap ada namja yang mengajakmu keluar”

“hanya makan malam di rumahnya, apa yang special?”

“Astaga Summer choi, bahkan dia berani mengajakmu makan malam dirumahnya” jeritnya seperti seorang fangirl yang melihat idolanya topless.

“Itu acara reuni orang tuanya..dan orang tua kita juga, jadi-“

“Tetap saja. Ini kedua kalinya ia melakukan hal diluar namja lain yang selama ini mendekatimu, soo”

“Molla..”

“Cobalah. Presiden Cho tampaknya benar-benar tergila-gila padamu, aku bisa lihat dari tatapannya. Dan Kau juga”

“Aku tidak..”

“Kau iya..”

“Terserah eonni saja”

“Nah, Kau hanya perlu sedikit bergaya dan memoles make up untuk besok malam, kau cantik tanpa banyak polesan Soo.itu cukup”

Dan begitulah perdebatan berakhir begitu saja, dengan diriku yang kembali menyerah pada kengototannya. Terima kasih tuhan!!

 

Sangji Ritzvil Caelum,Cheongdam-dong, Gangnam-gu. 21.15 KST

Taman belakang kediaman Cho yang dihiasi tanaman-tanaman asri telah disulap oleh Event Orgaizer professional dengan cukup menakjubkan.Taman yang berukuran 2 kali lapangan basket itu, ditutupi oleh tenda-tenda cantik berwarna pastel dengan kursi-kursi dan mejanya yang telah tertata rapi dan dihiasi pita-pita pink sebagai pemanisnya.

Beberapa bodyguard bersetelan jas berbaur dengan tamu yang hadir menyamarkan tugas pengamanan mereka. Sang tuan rumah tak mau pesta reuni yang seharusnya menyajikan keakraban dan temu kangen itu dirusak oleh bodyguard-bodyguard yang biasanya berjaga dengan tampang bengisnya.

Sajian yang mewah baik dari penataan tempat dan kuliner yang disajikan memang tak sebanding dengan hanya 150 undangan yang hadir pada malam itu, tapi tak akan jadi masalah bila Nyonya Cho dari Cho Hotel and Resort WW yang jadi tuan rumahnya.

Sooyoung POV

Hasil polesan make up yang soojin eonni kerjakan selama kurang lebih 2 jam, cukup membuatku bersyukur ketika aku mulai memasuki pekarangan kediam Cho yang sangat berseni ini. Aku yakini, tak salah make up kali ini.

Setibanya aku disana, karpet biru langsung menyambutku turun dari Hyundai yang dikendarai Soojin eonni sendiri dengan maid berjas rapi langsung menyambut kami dengan kesopanan yang tak tercela. Kemudian mengarahkan kami untuk mengikuti karpet biru yang akan membawa pada tempat acara yang sesungguhnya.

Sesekali kami berpapasan dengan tamu lain yang tak kalah anggun dan berkelasnya dengan penyambutan di pekarangan tadi.

Seperti menghadiri premier film saja.

Tema pesta reuni kali ini ternyata memang bertemakan tradisional, dengan hiasan bambu disudut-sudut tenda dan beberapa tamu yang tadi berpapasan dengan kami mengenakan baju tradisional korea.

Pantas saja. Ia menyuruhku memakai hanbok ini. Aku fikir karena semua ini alasannya.

Masing-masing meja yang telah dihiasi cawan berisi bunga teratai di tengahnya, telah diberikan label nama sesuai tamu undangan yang hadir.

Aku menyikut pinggang soojin eonni ketika mendapati meja yang dipersiapkan untuk keluarga kami berada di sebelah panggung kecil yang sengaja disediakan.

“Eoh~ yang itu ya? Tampaknya eomma dan appa belum datang soo” Soojin eonni menunjuk dengan dagunya memastikan.

Kami yang baru selesai mengerjakan pemotretan di pulau nami, berangkat langsung menuju kediaman keluarga cho ini. Sementara orangtua kami berangkat dari rumah.

“Aku ketoilet dulu kalau begitu, tunggu aku di meja saja”

“Baiklah jangan lama-lama soo, kelihatanya acara akan segera dimulai”

Hanya anggukan sebagai pertanda aku mengerti akan pesannya.

Lebih dari pekarangan rumah ini yang tampak bercita rasa arsitektur yang tinggi, ternyata keseluruhan rumah ini juga tak kalah mempesonanya.

Aku harus melewati beberapa gazebo yang tampaknya didesign untuk kegiatan santai keluarga cho sebelum menuju toilet yang tadi pelayan tunjukan.

Aku hampir tersesat saking banyaknya ruangan yang harus aku lewati sebelum akhirnya bertemu dengan namja yang dari kejauhan sudah menyunggingkan senyum lebarnya.

“Ah Nona Choi, anda datang juga rupanya. Ada yang bisa saya bantu?”

Namja dengan gummy smile nya ini, bertanya retoris.

“Sebenarnya aku mencari toilet, bisakah anda tunjukan dimana letaknya..”

“Lee Hyukjae. Anda bisa memanggil saya Hyuk saja” ucapnya seakan tau aku belum sempat mengetahui namanya. Keadaan saat itu tak memungkinkan kami untuk sekedar saling memperkenalkan diri.

Lagipula dia sudah tau namaku.

“Ah ya Hyuk~ssi. Jadi dimana letak toiletnya?”

“Apa perlu saya panggilkan kepala pelayan untuk membantu anda?”

Astaga. Berlebihan seperti biasanya. Aku berusaha mengatur mimic mukaku yang ingin melotot padanya.

“Tidak. Cukup tunjukan aku jalannya”

“Ah saya paham. Anda tinggal mengikuti jalan setapak ini dan diujung sana anda akan menemukan toilet khusus tamu”

“Terima kasih”

Bukannya dari tadi.

“Senang bisa membantu anda” ucapnya tetap ramah. Ya, Ramah. Itu satu sifat yang mungkin akan aku suka darinya.

Aku mengangguk singkat sebelum menyeret ujung hanbok yang kukenakan dan berlalu dari hadapannya. Sementara namja itu, kembali melangkah kearah kerumunan tamu yang lainnya.

Memang benar apa yang dikatakannya. Toilet yang tak kalah berseninya ini tepat berada di ujung jalan setapak dengan pintu yang terbuat dari kayu mahogany yang kokoh.

Belum ada tamu lain tampaknya yang menggunakan toilet.

Tentu saja. Manusia mana yang menggunakan toilet ketika acara belum berlangsung. Hanya diriku saja sepertinya.

“Kenapa jadi gugup begini..huft”

Air dingin dari wastafel mengalir disela-sela jemariku, cukup menyegarkan pikiranku yang ruwet sejak dari gerbang tadi ditambah tubuhku yang tampaknya mulai linu disana sini akibat jadwal yang menggila. Kembali kuperhatikan polesan make up dan hanbok yang kukenakan. Masih sempurna.

Sedikit membenarkan letak tas tanganku, aku mendorong pintu toilet untuk bergabung dengan soojin eonni dan mungkin orangtuaku yang sudah tiba di meja yang telah dipersiapkan.

Seketika gerakanku terhenti ketika seseorang dari arah lorong tempat yang sama aku datang tadi tengah berjalan dengan santainya.

Tuhan, kenapa harus bertemu dengannya ditempat seperti ini.

Namja dengan stelan jas George Armaninya itu terus melangkah dengan tangan-tangan yang ia selipkan di saku celana bahan dengan warna yang serasi. Tampak pas ditubuh tingginya.

Jangan tanya darimana aku tau brand apa yang ia kenakan, karena teman modelku sering memperagakan busana yang ia kenakan. Jadi aku cukup hafal. Dan jangan lupa, ia pasti mampu membelinya.

“Hi” sapanya ketika sudah berdiri 5 meter dihadapanku.

Selalu. Dia yang menyapa duluan. Baguslah, karena kalau harus aku, aku tak tau harus mulai dengan kata apa.

“Selamat malam, presdir cho” entah untuk alasan apa, malah senyum aneh yang kurasa kini tercetak dibibirku. Sial. Ini tak seperti yang kurencanakan.

“Kau cantik” ucapnya tanpa dosa setelah mengamatiku dari ujung kaki sampai rambut.

Nah. Belum sempat aku menyiapkan kata lain setelah percakapan terakhir kami, dia dengan santainya mengucapkan sesuatu yang membuat semburat merah menghianati pipiku.

“Kukira orang seperti anda, akan bersedia berbasa-basi lebih dahulu ketika memuji seorang yeoja”

“Tidak untukmu. Aku sudah kapok basa-basi denganmu”

Cukup, jangan terbawa suasana. Ingat tujuan awalku datang ke sini. Mengakhiri semuanya.

“Kalau begitu terima kasih pujiannya. Anda tak jauh-jauh kesini hanya untuk  2 kata itu kan?”

Seperti biasa. Si mulut besar ini malah terkekeh menjawab lontaran pertanyaanku. Apa aku terlihat seperti badut dimatanya?

“Tidak. Kita sama-sama pengguna toilet nona.” Ia melirik kearah sampingku. Refleks aku ikut menolehkan sedikit kepalaku.

Men Toilet. Tentu saja. Kenapa aku baru sadar. Kukira dia mengikutiku setelah mendapat laporan dari hyuk~ssi tadi. Astaga, apa yang aku pikirkan sebenarnya?

“Oh~ kalau begitu aku permisi” aku sedikit bergeser untuk memberinya jalan dan berlalu melupakan kebodohanku.

“Tunggu. Kita pergi bersama saja, lagipula keluarga kita sepertinya sudah menunggu di meja” ucapnya menyamakan langkah.

“Bukannya kau mau ke toilet?” aku mendengus kearahnya dan serta merta menghentikan langkahku.

“Urusanku dengan toilet sudah beres”

Dengan seenak jidatnya dia meraih pergelangan tanganku dan menyeretku mengikuti langkahnya tanpa kontak mata ‘mari pergi bersama’ sedikitpun.

Dua kali dalam hidupku. Diseret seperti sekarung sayuran.

Sooyoung POV End

 

Meja-meja yang disiapkan oleh tuan rumah, kini sebagian besarnya telah terisi oleh para tamu undangan. Dan benar saja apa yang kyuhyun ucapkan, jika keluarga choi dan nyonya cho sudah berkumpul di meja masing-masing yang kebetulan berdekatan.

Keluarga Choi yang terdiri dari orang tua Sooyoung dan kakak perempuannya yaitu Soojin, terlihat tengah asik bercengkrama dengan Cho Hanna tanpa menyadari kehadiran anak-anak mereka yang sedang berjalan menuju arah meja.

“Ehm..annyeong” Kyuhyun melepaskan cengkramannya dari tangan sooyoung dan membungkuk menyapa yang ada di meja. Serempak semua orang menoleh kearahnya.

“Ah~ presdir cho. Syukurlah kau menemukan adikku, kukira ia akan tersesat mencari-cari toilet. Ia memang keterbatasan ingatan kalau soal ingat-mengingat tempat haha” Soojinlah yang pertama menyahut salam dari kyuhyun, tentu dengan kepayahannya dalam membuka aib adiknya sendiri.

“Eonni~” Sooyoung mendesis yang hanya dapat didengar namja disebelahnya.

“Tiba-tiba aku merasa ingin ke toilet, dan disanalah kami bertemu. Dan berhenti memanggilku seperti itu nonna, orang tua kita saling mengenal dengan baik” kyuhyun mengedarkan pandangannya pada orang tua sooyoung dan kembali mengangguk kecil.

Diliriknya Sooyoung yang masih berdiri cemberut, kemudian kyuhyun mengulurkan tangannya mempersilahkan sooyoung mendekati kursi yang disiapkan untuk gadis tersebut.Ia ikut mengekor dibelakang gadis berambut panjang sepinggang itu dan bersiap menarikan kursi untuk sooyoung duduki.

“Aku akan melakukannya sendiri, terima kasih” Dengan bisikan datar Sooyoung menarik sendiri kursinya dan mendaratkan bokongnya lebih keras dari biasanya. Kembali mengundang senyum namja yang merasa dihibur oleh sikap ‘aku bisa sendiri’ nya itu.

Tak mau ambil pusing, kyuhyun menarik kursi disebelah eommanya dan mencium sekilas pipi wanita paruh baya tersebut.

“Sudah lama kita tak bertemu Kyu, Hanna merawatmu dengan baik sehingga kau tumbuh jadi pria yang sukses seperti saat ini. Kudengar akhir-akhir ini kau semakin sibuk saja ya?” tuan Cho melemparkan senyum  ramah.

“Terima kasih paman, aku juga senang bertemu dengan sahabat dari orang tuaku.Kesibukanku masih itu-itu saja, tak sesibuk paman yang sukses merancang beberapa gedung-gedung terkenal seperti yang kudengar. Oh ya, Maaf terlambat mengenali putri-putri anda di acara amal kemarin, eomma baru memberitahuku setelah acara usai.”

“Tak apa. Mereka memang kubiarkan mandiri dengan pilihan jalan hidup masing-masing. Tak ada namaku dalam setiap sepak terjang mereka di dunia pekerjaan.”

Pria yang mulai menunjukan tanda-tanda usia senja dengan tumbuhnya uban pada helaian rambutnya itu berkata dengan penuh wibawa. Wibawa seorang Pemilik biro konsultasi arsitektur ternama.

Obrolan selanjutnya didominasi oleh 5 orang yang ada di meja tersebut, entah itu masalah bisnis, mengenang masa-masa kuliah mereka dulu ataupun kerepotan yang soojin alami dalam menghandle jadwal sooyoung yang semakin padat. Sementara yang jadi topik pembicaraan sendiri, memilih jadi pendengar sejati yang sesekali menjawab dan tersenyum seperlunya.

Kyuhyun menangkap sepenuhnya kebosanan yang tengah melanda gadis disebrangnya, mungkin gadis itu bisa berpura-pura tersenyum ketika beberapa pertanyaan terlontar untuknya tapi mata bulatnya yang sesekali menatap kosong membuktikan ia bosan dengan perbincangan yang ada. Atau gadis itu kelelahan? Kyuhyun harus memastikannya.

“Ehm..” Menghabiskan tegukan wine terakhir pada gelas dalam genggamannya, kyuhyun berdehem menarik perhatian semua yang ada di meja.

“Paman dan bibi, aku ingin menunjukan beberapa tempat di rumah ini kepada nona-nona choi. Kuharap kalian tidak keberatan.”

“Pergilah. kami tau kalian anak muda pasti bosan dengan pesta reuni seperti ini” Nyonya choi mewakili jawaban suaminya. Toh suaminya juga pasti tak keberatan. Mengingat kyuhyun dengan sopannya mengajak kedua putri mereka.

Sooyoung yang sedang sibuk dengan kudapannya, melirik dari bulu matanya yang lentik. Menanggapi ajakan tak langsung dari sang tuan rumah.

“Aku disini saja,tak usah ikut berkeliling ya. Ajak sooyoung saja yang kelihatan butuh penyegaran” Soojin menampakan cengiran penuh artinya kepada kyuhyun.

Soojin hanya menggunakan feelingnya sebagai seorang kakak, yang merasa pertemuan awal antara adiknya dan presiden cho tidak berjalan dengan semestinya. Entah apa itu. Tapi yang jelas rasa ketertarikan yang kuat, muncul begitu saja dari insan yang berlainan gender itu. Terutama pada diri presiden cho yang dengan tampang rapihnya mau menunggui adiknya yang masih lelap tertidur hanya untuk memastikan keadaan gadis itu.Karena itulah ia bisa mempercayai seorang presdir cho yang jarang sekali terdengar dekat dengan wanita itu tidak akan mempermainkan adiknya. Walau pada akhirnya malah masalah lain yang ia timbulkan dari ketidak mahirannya dalam memulai percakapan dengan seorang wanita muda. Wanita muda seperti sooyoung yang untuk pertama kalinya betul-betul menarik perhatiannya.

“Bagaimana Sooyoung~ssi?” Kyuhyun mendirikan tubuhnya dan mengulurkan tangannya hormat untuk disambut sooyoung. Sementara gadis yang tentu saja tidak punya pilihan lain selain menerima uluran itu, mengedarkan pandangannya pada keluarga choi dan nyonya cho. Tampak tersenyum memberi isyarat untuk sooyoung menerima ajakan itu.

Baiklah, lagipula kami perlu bicara langsung. Batin Sooyoung.

Sooyoung yang kembali menatap kearahnya, menjadi pertanda bagi kyuhyun bahwa gadis itu menerima ajakannnya. Setelah ulurannya bersambut dengan tangan halus sooyoung, kyuhyun membawa sooyoung kearah tempat yang sengaja ia siapkan, karena makan malam sesungguhnya bukan di reuni orang tuanya tapi sekaranglah saatnya.

Sooyoung hanya terdiam ketika kyuhyun terus menuntunnya kebagian dalam rumah megah tersebut. Bersyukur karena kali ini tak ada acara seret menyeret seperti sebelumnya karena tubuh sooyoung semakin terasa tak beres saja. Sesekali kyuhyun menjelaskan ruangan-ruangan yang mereka lewati yang kebanyakan didesign atas permintaan nyonya cho.

“Apa kau lelah? Energimu seperti habis untuk mencerewetiku seperti yang sudah-sudah” Kyuhyun menghentikan langkahnya didepan sebuah pintu kayu dengan ukiran yang sangat indah.

“Asal kau tau, Kami baru pulang dari pemotretan di pulau nami. Dan sejak kapan aku cerewet? Aku cerewet karena tingkah anda yang sangat suka seenaknya presdir” Sooyoung melepaskan tautan jemarinya dan melirik kekanan dan kiri lorong yang telah mereka lalui. Serasa dejavu.

Kyuhyun menyembunyikan senyum tipisnya dari jawaban sooyoung yang kelewat semangat. Seperti melupakan sendiri kelelahan yang tadi gadis itu rasakan.

“Sebenarnya Kau mau membawaku kemana? Terakhir kali kita berada dalam situasi seperti ini, hanya hal-hal yang mencengangkan yang aku terima”

Sooyoung kembali menatap kyuhyun waspada.

“Kau memang menarik. Aku mengajakmu untuk makan malam kan? Dan di sinilah kita sekarang. Untuk makan malam. Atau kau ingin melakukan hal lain denganku?”

“Jangan mimpi. Cepat tunjukan tempatnya, aku ingin cepat-cepat pulang dan istirahat.” Sooyoung reflex menarik tangan kyuhyun dan bersiap menyeretnya.

“Wow. Tunggu nona, kau tak sabaran sekali. Kita sudah sampai di kondominiumku, ini pintunya” Kyuhyun menggedikan bahunya kearah pintu dibelakang tubuh sooyoung. Seketika sooyoung menghentikan aksinya dan menyembunyikan senyum malu yang sangat lugu bagi kyuhyun.

“Ini rumahku, kau berada di wilayahku. Dan aku harus mengingatkan kembali untuk kau mematuhiku ketika diwilayahku, karena kau bisa tersesat seperti yang sudah-sudah”

“Diamlah. Aku hanya perlu beberapa kali berkeliling dan mengetahui seluk beluk suatu tempat” Sooyoung melipat tangannya didada tak mau diremehkan.

“Tunggu. Maksudmu, kau akan sering berkunjung kerumahku? Begitu?” kyuhyun semakin gencar menggoda gadis yang wajahnya sudah memerah seperti tomat itu.

“Yak. Bukan begi-“ ketika sooyoung sudah sangat kesal dengan kelakuan menyebalkan kyuhyun yang muncul lagi, sooyoung bersiap melancarkan serangan pamungkasnya yaitu menghadiahkan sebuah gigitan yang tampaknya memang ampuh untuk sikap menyebalkan kyuhyun. Tapi sebelum itu terjadi, sebuah deheman menghentikan aksi konyol mereka.

“Ehm..maaf mengganggu presdir cho, tuan dan nyonya hwang beserta putrinya sudah ada di tempat reuni. Saya disuruh untuk memanggil anda untuk bergabung”

 

Sooyoung POV

Seorang namja dengan setelan jas hitam rapi tengah berdiri dihadapan kami setelah sebelumnya membungkuk untuk memberi hormat. Dengan garis wajahnya yang tegas, ia menatap hormat pada namja yang ada dihadapanku dan sebaliknya tatapan penuh selidik yang ia arahkan kepadaku. Aku tidak suka tatapannya.

“Siwon~ssi untung kau datang, ini nona choi yang waktu itu kuceritakan”

Apa maksudnya ‘untung siwon~ssi datang’..ah~ gara-gara dia aku tak jadi melancarkan aksiku. Dan apa saja yang mereka bicarakan tentangku?

“Selamat malam nona choi. Soal keluarga Hwang, presdir-“

Namja bernama siwon itu melirikku sekilas sambil membungkukan tubuhnya, tetap saja tatapan anehnya membuatku tak nyaman.

“Katakan pada mereka, kami ada urusan lain”

“Tapi-“ aku dan siwon~ssi bertatapan sekilas karena kami mengucapkan kata yang sama.

“Sudah kubilang. Aku tak suka dibantah. Terutama oleh kalian. Kalau kau sudah selesai dengan pesanmu, tolong panggilkan Hyukjae kemari”

Namja di sebelahku kembali ke mode ‘presdir cho’ nya yang dingin dan tegas dihadapan bawahannya.

“Algeusumnida. Saya permisi kalau begitu”

Tak banyak basa-basi lagi, bersamaan dengan itu Siwon~ssi meninggalkan kami dan sosoknya hilang ditikungan lorong.

“Apa tidak sebaiknya kita bergabung dengan mereka, Kyuhyun~ssi? Aku merasa tak enak hati meninggalkan pesta begitu saja.”

“Itu bukan acara kita, jadi tak apa-apa kita tak ikut sampai akhir”

“Tetap saja-“ aku bergumam tak berniat melanjutkan, bisa panjang urusannya kalau aku tetap dengan kengototanku dan dia dengan sifat tak mau dibantahnya. Dasar Tuan seenaknya sendiri.

“Jangan menggerutu begitu. Aku semakin gemas padamu dan ingin balik ‘menggigitmu’ kalau begitu”

Hah? Gemas? Dia gemas padaku? Menggigit apa katanya? Kenapa pikiranku jadi membayangkan yang tidak-tidak.

Dia menyeringai tak sopan, melihatku shock dengan perkataannya.

Sialan. Dia mengerjaiku rupanya.

“Sudah, jangan pikirkan yang tidak-tidak nona” kembali mulut sialannya menyeringai menyebalkan.

“Stop. Bisa kita cepat akhiri hal menyebalkan ini tuan, dan sebagai informasi aku sudah sangat lapar mengingat tadi aku hanya mengganjal perutku dengan kue kecil”

“Haha. Baiklah, silahkan nona” ucapnya membukakan pintu dengan pegangan besi asli yang mengkilat.

Aku tak akan terlihat seperti orang bodoh jika apa yang tersaji dihadapanku bukanlah sebuah ‘rumah dalam rumah’. Ya tuhan, aku berusaha keras untuk menelan salivaku sepelan mungkin melihat betapa bajingannya orang kaya ini.

Dia tidak bisa melakukan ini, membuat ruangan yang katanya kondominumnya tampak seperti rumah tinggal pada umumnya dengan berbagai ruangan didalamnya.

“Kau bisa menjelajah kalau mau, aku rasa kau tipe penasaran tingkat tinggi nona choi”

Aku melirik kepadanya mengalihkan ketakjubanku pada ruangan yang lebih pantas kusebut ruang tamu karena memisahkan jarak pandang kita pada ruangan lain yang lebih privat.

Ya aku mau, mungkin dia bisa membaca itu dari mataku yang kuyakini bersinar antusias.

Ia berjalan dengan anggun kedalam ruangan selanjutnya..ruangan TV mungkin? Yang terpisah oleh kaca transparan meninggalkanku tetap diruangan yang langsung kutemui ketika tadi dia mempersilahkanku masuk.

“Anggap rumah sendiri. Seperti biasa” tambahnya sambil membuka simpul dasi dan jas yang ia kenakan. Aku tak begitu peduli, yang kupedulikan saat ini adalah interior keseluruhan ruangan tamu ini.

Minimalis tapi elegan. Sungguh, hanya ada dua sofa tanpa lengan berwarna hitam putih dan seperangkat meja kaca berbentuk persegi dengan kaki-kaki dari besi. Dibelakang sofa tersebut diletakan dua buah lukisan dengan tekhnik cat minyak dominasi warna emas. Sebagai pencahayaan dan kurasa untuk mempercantik ruangan, 3 buah lampu tempel bercahaya remang ditempatkan di sudut-sudut tembok.

“Kau yeoja pertama yang kuizinkan menatap setiap sudut kondominiumku seperti seorang pencuri begitu. Sekarang, kita perlu makan malam kalau kau sudah selesai dengan pengamatanmu”

Haruskah aku bersorak dan menginformasikannya kepada teman-temanku yang kebetulan menggilainya. Please.

Aku berjalan menghampirinya yang tengah tiduran di kursi santai sambil memejamkan matanya. Ia terlihat rileks dibandingkan sepanjang acara tadi.

Sudahlah, kau juga memang kelaparan Choi Sooyoung.

Seperti sudah mengenal lama setiap sudut kondominiumnya ini, kakiku melangkah dengan tepat kearah pantry dengan kembali batu granit sebagai pondasinya. Kitchen set yang terbuat dari kayu alami membuat pantry ini terlihat lebih menyatu dengan tembok dasarnya yang berwarna cokelat kayu.

“Mau makan malam apa tuan cho? Jangan bilang ‘beri aku kejutan’. Karena aku duluan yang sudah terkejut dengan semua ini.”

Sambil tetap dengan kegiatanku memanaskan air –kurasa itu hal penting pertama untuk membuat teh atau espresso- aku menangkap bayangannya yang berjalan menghampiriku dan seperti yang sudah-sudah mengambil tempat duduk memperhatikan apa yang kulakukan.

“Aku ingin makan ramen. Buatkan untukku” ucapnya dengan datar tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel yang tengah ia mainkan.

“What? Apa kau gila. Katanya makan malam-“

“Apanya yang gila? Ah~ kau membayangkan makan malam dengan lilin-lilin dan bunga mawar bertebaran disekitar meja makan ya?”

Cho kyuhyun terkekeh dengan tidak sopannya.

“Tidak pernah. Tapi kenapa harus makan ramen?”

“Bukannya kau yang bilang tak boleh menghambur-hamburkan uang untuk mengejar seorang wanita? Aku coba memenuhi permintaanmu sekarang” ucapnya terkesan serius.

Itu artinya kau mengejarku cho kyu? Kau tak boleh seterus terang itu! Tuhan, pipiku..tubuhku..aku pasti kelaparan akut.

“Kau kelihatan tambah linglung sooyoung~ssi. Kata-kataku seampuh itu ya? atau itu efek kelelahanmu?”

Ya aku memang linglung dengan semua kata-kata dan tindakan ajaibmu sekarang. Namja ini bahaya. Benar-benar berbahaya.

“Terserah. Dimana aku bisa mendapatkan ramennya?” aku mengalihkan fokusku pada buffet-buffet yang ada di bawah bak cuci piring.

“Tunggu sebentar. Hyuk akan mengantarkannya”

“Kau tak punya persediaan ramen? Hahaha semua orang punya persediaan ramen didapurnya presdir cho”

“Aku bukan semua orang, kau ingat. Eomma tak mengizinkanku makan-makanan instan seperti itu.”

“Pantas saja hyuk~ssi yang kau suruh-suruh.” Aku meletakan espresso dihadapannya dan ikut duduk dengan teh putih yang aku temukan di lacinya.

“sejak kapan hyuk~ssi dan Siwon~ssi bekerja untukmu?”

Apa ini? Obrolan kami seperti taman akrab saja. Biarlah dari pada aku harus terfokus pada bibir merahnya yang kembali tercipta karena espresso panas yang ia cicipi.

“Sejak kami kecil. Kuharap kau tak penasaran soal itu. Karena kita disini untuk membicarakan tentang kita, bukan mereka”

Sial. Suasana kembali serius dengan cho kyuhyun dan tatapannya yang penuh harap.

Aku meneguk tehku perlahan, mengabaikan asap panasnya yang masih mengepul. Tak menolong sama sekali.

“Aku suka semua sifatmu yang tak bisa kuprediksi soo, semua ini kuharap bukan jadi masalah lagi” ucapnya sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Kekayaannya.

Aku semakin berdegup, kearah mana pembicaraan ini akan bermuara. Sementara dirinya bisa mengatakan semua itu dengan ketenangan yang nyaris sempurna.

“Aku suka dirimu yang waktu itu menggigitku, membuatkanku sarapan yang tepat dan langkah paling benar yang aku lakukan adalah mengikuti feelingku untuk mengontakmu lebih dulu” senyum remajanya kembali timbul.

“Be mine” imbuhnya tanpa pemikiran.

Aku bisa apa sekarang? Sekitarku perlahan menjadi gelap tak berbintang, hal terakhir yang aku sadari..ia menghambur kearahku dengan tatapan kaget takut kehilangan.

TBC

45 pemikiran pada “The First #4 (My Mine)

  1. Omg jangan bilang soo pingsan baru di tembak kyu,, ahhh romantis bgt,, sehabis baca ini tiba2 muncul keinginan untuk jatuh cinta lagi,, ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮

  2. siwonsie jadi ajudannya kyuhyun…
    oh my god sejak kapan ? muehehe
    acungin jempol bwt soojin eon dia ngerti bgt adiknya.. malah adiknya yg gk ngerti sma perasaannya sendiri

  3. Great! Soo yg bingung dan kyu yg terlalu gegebah, maksudnya yg gak sabaran. Sumpah lama2 kyu udah bener2 gila, hnya karena mengagumi_eh mencintai Soo. Jadi gemes sama sifat Soo di sini. Sebenernya dia itu punya perasaan sama kyu atau gak sih?*gigitkyu #ditimpuksparkyu.
    Ah!!! Cuma bisa mikirin kelanjutannya kyk gimana, padahal gak tahu kejutan apa yg akan ada di part selanjutnya. Kkkkkk~.
    Hwating!! Klo bisa jgn lama2 ya post ff selanjutnya….

  4. Waaa bagus2!
    Sooyoung batin mulu pas tau makan malam mereka cuman ramen. Kekeke
    oh, Kyuhyun semakin terang-terangan nunjukin rasa suka nya ke soo..
    Tunggu apa lagi, terima, soo!😀

  5. Hyuk udh kyk pembantu.a kyuppa…#LOL#kshann..
    Wahh kyuppa main nembak aja.. Dan apa nih jawbn soo
    Sojin eonnie tau aja klo kyu mau berduaan sma soo
    Next.a jgn lma” yaa..
    Aku kira blum ada part 4.a, karna aku bca part sblum.a di KSI,, ff.a blum di publis di KSI yakk??
    Publish dong#tampangmelas#

  6. omona … ak bru bca yg part 4 n…
    tmbah seru.
    huh. tp biasa si evil dgn sfat Bossyny yg mbwt ak tmbh gemes dgn pranny dsni..
    tp ak ska.kkkk…
    tinggl bgmna soo yikapinny aj lg. tp ak hrap soo mw nrma dan mbls prasaan kyu.

    dan … kyu mmg keren. bwhanny aj kren2 gmna kyuny gk keren cba..

    next part dtnggu…SEMANGAT..

  7. Cieileeh ‘be mine’ kata yg singkat tapi berasa banget ada unsur tegas dan maksa .
    Udah soo ngga usah mikir lagi wkwk .
    Aduh ga kebayang nanti gaya pacaran mereka yg main gigit gigitan(eh?)
    Oh iya presdir cho udah ngga nafsu sama yg lebih tua nih ceritanya? ?
    Aku ngga sabar sama nextnya,jebal jangan lama lama penasaran hehe

  8. wahahaha daebak thor, jadi pengen langsung baca part 5, tapi aku harus jadi good reader#apadeh?#, jadi coment part ini dulu deh…
    aku baru baca cerita ini sekaligus new reader, jadi slam kenal semua…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s