[TreeShot] UNDER THE SAME SKY Bag. 2

UNDER THE SAME SKY

Author : Puppy_Ky/ @realme90

Length: ThreeShoot (Maybe)

Genre : Suka-suka :p

Cast : Uri Kyuyoung, Appa Choi, Kim Jongwon Etc

 

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari Good mannersnya seorang CKH dikehidupan nyata..hebat yah tuh orang, bisa ngeinspirasi orang bikin FF..Malem-malem pula :3 Well..sebenernya sikapnya bisa dilakuin sama semua orang, tapi dengan imej CKH yang “Evil” mungkin kita bisa memandang (?) kepribadian dia yang sesungguhnya dari sudut pandang yang lain ^^..Ketampanan dan kecantikan mungkin bisa dibeli, tapi sikap dan sifat yang baik itu berasal dari hati #SalamKuper hahaha berasa Mario teguh :p

 

 

Hul, Belum End juga UTSSnya ^^v. Tapi yang pasti..Setiap bikin karya, selalu ga nyangka kalo imajinasi bisa sejauh itu. Padahal hidup saya juga kayak gadis kuliahan biasa yang hidupnya gitu-gitu aja, tanpa (belum) ada  pangeran berAudi putih apalagi kisah cinta yang bikin semua gadis didunia iri😀 tapi karena itulah saya menikmati setiap alur dan mencintai tokoh yang saya imajinasikan dalam karya.

 

And the last, selamat membaca🙂

 

 

“Perempuan baik-baik hanya untuk laki-laki yang baik, begitupun sebaliknya..Aku disini, merasa bukan laki-laki yang baik. Jadi, sudah jelas Sooyoung~ah”  -CKH-

 

 

 

 

Angin musim gugur membawa bau yang khas pada siang hari itu. Daun-daun maple berguguran diterbangkannya, memenuhi halaman kediaman keluarga Choi yang asri.

 

Ditempat yang sama dengan situasi yang sedikit lebih baik dari sebelumnya, Kyuhyun duduk dikursi kayu yang divernis mengkilap dan seperti biasa menundukan pandangannya.

 

Serasa dejavu.

 

Dari ujung matanya, kyuhyun berusaha mencuri-curi lihat pada dekorasi kediaman keluarga choi secara keseluruhan. Kediaman Choi nampak sederhana namun kesan hangat sebuah keluarga yang tinggal didalamnya membuat kyuhyun menarik sebuah kesimpulan.

 

Beda sekali dengan kondisi keluarganya.

 

Perabotan rumah tangga dan sebagian besar dinding penyangga rumah didominasi oleh kayu alam yang di plitur sedemikian rupa sehingga tampak elegan. Beberapa potret keluarga yang terdiri dari Sooyoung dan kedua orang tuanya yang tengah tersenyum bahagia menggantung di beberapa sudut ruangan.

 

Kyuhyun terus diam-diam mengorbit matanya, sampai ia sedikit tersentak karena appa sooyoung sudah berdiri dihadapannya.

 

“Kenapa kau seterkejut itu, anak muda?” Choi jungnam menegur dengan intonasi sedatar batu karang.

Kyuhyun merutuk dalam dirinya, kenapa pertemuannya dengan orang tua satu ini tak pernah semulus yang diharapkan, memang apa salahnya? Mencuri jeruk? Itu sudah berminggu-minggu berlalu.

 

Mencuri hati putri si pemilik kebun jeruk. Itulah masalahnya.

 

“Kau kira aku gwishin eoh? Diam-diam mengamati isi rumahku seperti itu. Kau kira aku tak melihat gelagatmu Cho kyuhyun?!” kali ini tuan Choi memilih menyerah pada sakit pinggangnya yang akan kambuh jika pria akhir 40an itu tak segera duduk. Satu-satunya kursi yang tersedia adalah dihadapan kyuhyun.

 

“Maafkan saya pak choi, saya terkagum pada beberapa potret yang membingkai kebersamaan keluarga anda. Terutama..terutama senyuman bibi choi” Kyuhyun mengusap belakang tengkuknya dan tersenyum dengan aneh, pemuda itu memilih pujian yang dianggapnya aman.

 

Lagipula senyuman eomma Sooyoung memang tak kalah menawan. Memuji Sooyoung langsung sama saja dia melakukan harakiri. Biarlah choi sooyoungnya ngamuk belakangan. Tapi sungguh sial,

 

“Kau menyukai mendiang istriku?!” skakmat bagi kyuhyun.

 

“Ani..aniya, saya menyukai putri-“ kyuhyun berusaha meralat dengan cepat.

 

“STOP.Aku tau apa yang akan kau katakan. Aku mendengar apa yang terjadi diantara kalian berdua. Para pekerjaku dengan setia melaporkan semuanya.”

 

Kyuhyun dan Sooyoung memang merahasiakan kedekatan mereka sejak insiden jeruk itu dan memilih menjalani semuanya tanpa beban. Mereka sepakat akan menemui appa sooyoung ketika keduanya memang sudah merasa siap dengan hubungan yang lebih serius. Tak disangka saat itu, datang secepat ini. Choi Jungnam meminta bertemu langsung dengan Kyuhyun.

 

Merasakan aura kewibawaan dan intimidasi yang besar dari lelaki paruh baya dihadapannya, Kyuhyun jadi teringat pesan Sooyoung ketika mereka usai bertemu di kebun jeruk.

 

Gadis itu dengan lembut menuturkan bahwa walaupun terlihat galak tapi appanya sangatlah lembut hatinya, mudah terenyuh oleh kebaikan orang kepadanya dan sangat menyukai seseorang dengan prinsip hidup yang kuat.

 

Appanya adalah segalanya bagi Sooyoung. Dengan kewibawaannya beliau telah sukses menjalankan perannya sebagai ayah dan ibu sekaligus semenjak eomma sooyoung meninggal.

 

Sooyoung tak mengada-ngada soal itu.

 

“Senyuman istriku memang yang terbaik, dan untungnya itu diwariskan kepada putri kami”

 

Appa sooyoung sedikit tersenyum mengenang mendiang istrinya yang telah tiada, secara tak langsung kyuhyun membangunkan kembali memori indah itu.

 

“Algeutsumnida, sayapun bersyukur untuk itu”

 

Suasana diantara dua namja beda masa itu perlahan mulai mencair dari kekakuan. Tatapan mereka yang semula terfokus pada salah satu potret paling besar di dinding, kini beradu dalam satu tatapan. Tatapan tajam obsidian cokelat kyuhyun dan tatapan penuh wibawa milik Choi Jungnam.

 

“Kudengar kau seorang Fotografer, Objek seperti apa yang biasanya jadi bidikanmu?”

 

Appa sooyoung terlihat tertarik dengan hoby kyuhyun itu. Tak tahu saja jika yang jadi objek favorite kyuhyun saat ini adalah puterinya.

 

“Nde pak choi. Saya sangat menyukai keindahan alam, salah satu alasan saya berlibur di Busan ini adalah keindahan alamnya yang bisa saya abadikan dalam lensa kamera saya.”

 

Sooyoung adalah salah satu keindahan yang tuhan ciptakan. Untuknya. Miliknya.

 

“Baguslah. Sudah sangat jarang orang yang menghargai keindahan alam yang masih ada disekitar kita. Apalagi bagi orang-orang di perkotaan yang hanya melihat keindahan alam ini sebagai peluang investasi dan uang semata. Aku menghargai itu.”

 

Kyuhyun sesekali hanya mengangguk, mengikuti arah pembicaraan tanpa berani menyela. Pembicaraan ini sangat penting baginya dan mungkin juga bagi appa sooyoung, ia rasa inilah saatnya menyatakan keseriusannya. Perasaannya pada putri pak choi ini bukan main-main lagi.

 

“Putriku pasti sudah cerita banyak tentangku. Anak itu pasti menyuruhmu untuk mengerti kekakuan dan kekerasan perangaiku. Semua itu aku lakukan untuk melindungi permataku yang paling berharga. Putriku dan perkebunan ini.”

 

“Dia bilang anda juga adalah hal paling berharga dalam hidupnya.”

 

“Hahaha rupanya hubungan kalian sudah sampai sejauh itu. Saling bercerita eoh? sudah kuduga”

 

Godaan yang di ucapkan oleh appa sooyoung malah semakin membuat telinga kyuhyun memerah. Kebiasaannya ketika rasa malu menyerang.

 

“Aku pernah bilang kau harus menikah dengan putriku sebagai hukuman kelancanganmu. Dan Aku pernah bilang bahwa putriku adalah gadis yang Buta, Tuli dan Bisu”

 

“Nde”

 

“Putriku Buta artinya dia tak pernah melihat sesuatu yang aku larang selama hidupnya, matanya yang indah tak pernah dia biarkan untuk berlama-lama menatap namja lain selain aku sebagai appanya. Apa kau menerimanya?”

 

“Tentu. Itu suatu kehormatan bagi saya”

 

“Dan putriku Tuli karena pendengarannya tak kubiarkan mendengar kata-kata kasar dan mendengarkan perkataan yang sia-sia maupun pembicaraan yang menjelekan orang lain”

 

Pantas saja,sooyoungnya adalah gadis paling sopan santun dan lemah lembut dalam berbicara baik kepadanya maupun masyarakat sekitar yang pernah mereka temui, batin kyuhyun.

 

“Satu hal lagi, Bisu..putriku bisu karena bibirnya tak pernah melontarkan ucapan yang tak ada manfaatnya atau berpotensi menyakiti hati orang lain. Karena itulah Putriku sangat berharga bagiku.”

 

Kyuhyun tau sooyoung pasti dibesarkan dengan kasih sayang dan budi pekerti yang luhur seperti itu. Sementara dirinya?

 

“Selama ini, aku menunggu pemuda yang tepat untuk menjaganya seumur hidup menggantikanku yang sudah tua ini. Dengan kejadian tempo lalu, Kurasa kaulah pemuda yang aku tunggu itu”

 

Lebih dari tersentak, kyuhyun tak percaya pada pendengarannya sendiri. Pemilik tanah perkebunan jeruk paling luas di Busan dan merupakan appa dari gadis paling luar biasa yang pernah ia jumpai memintanya untuk..menjaga putrinya seumur hidup?

 

“Saya memang sangat mencintai sooyoung. Maaf baru mengakui sekarang pada anda. Tapi saya belum punya sesuatu pada diri saya yang bisa meyakinkan untuk menerima kehormatan itu.”

 

“Haha kau terlalu merendah anak muda. Kau tak perlu sempurna untuk bisa menjaganya. Cukup menjadi Cho Kyuhyun yang dengan jujur mengakui memakan jerukku tempo lalu, itu saja”

 

“Saya..”

 

“Tapi semua terserah pada putriku juga. Kau jangan besar kepala dengan aku mengatakan ini bukan berarti putriku juga mau menerimamu. Standartnya sama tingginya denganku”

 

Kyuhyun mengangguk patuh dan tersenyum tipis. Sooyoung pasti menerimanya setelah waktu-waktu yang mereka lalui bersama apalagi kini appanya secara tersirat sudah memberikan lampu hijau padanya, tapi kembali..sungguh luar biasanya keluarga ini, orang tua memang berhak memilihkan yang terbaik buat anaknya tapi keputusan tetap ditangan anak sebagai penentu jalan hidupnya sendiri.

 

Sementara kyuhyun, jalan hidupnya sedari kecil sudah diatur sekehendak orang tuanya, termasuk pasangan hidup yang ia hindari. Itulah masalahnya. Keraguannya pada dirinya sendiri.

 

Dan ia akan sangat brengsek jika mundur sekarang setelah menawan perasaan seorang gadis luar biasa. Kyuhyun menyadari itu.

 

Tak ada jalan lain. Inilah saatnya, sekali saja ia menentukan masa depannya sendiri.

 

“Maafkan saya. Sebelumnya saya belum memperkenalkan diri saya sepenuhnya. Anda dan sooyoung harus mendengar ini,” Kyuhyun menarik nafas untuk sebuah pengakuan yang akan ia sampaikan. Ia juga tahu, diam-diam sooyoung mendengarkan percakapan mereka sedari tadi dibalik pembatas ruangan.

 

“Tujuan saya datang ke Busan adalah untuk menghindari kehendak orang tua saya yang akan menjodohkan saya dengan putri salah satu rekan bisnis appa saya.”

 

Sampai disitu, kyuhyun mendengar sebuah benda jatuh dan kemungkinan pecah. Sooyoung pasti kaget mendengar pengakuannya. Sementara choi jungnam masih dengan berwibawa mendengarkan penuturannya tanpa berniat menyela sedikitpun, walau sepersekian detik tadi namja paruh baya itu juga sempat melirik kearah asal suara benda jatuh itu.

 

“Tapi perasaan saya pada putri anda benar adanya dan saya tidak main-main. Sebelum saya menerima kehormatan untuk memiliki putri anda, saya ingin menyelesaikan urusan saya di Seoul”

 

Satu lagi keberanian dan kejujuran dari Cho Kyuhyun. Pemuda lain mungkin akan memanfaatkan keadaan dan keuntungan yang tengah memihak untuk menipu dirinya dan putri tercintanya, tapi pemuda ini kembali menunjukan kelasnya. Tak salah ia mengatakan kepada putrinya di awal bahwa pemuda ini yang terbaik untuknya.

 

“Sooyoungie, kemarilah nak” tanpa banyak pertimbangan tuan Choi memanggil putri kesayangannya. Campur tangannya dalam hal ini sudah lebih dari cukup, kini semuanya biar dua insan yang saling tahu perasaan dan kebaikan untuk masing-masing ini yang menentukan. Sebagai orang tua ia akan mendukung dan ikut bahagia dengan apapun keputusan yang diambil keduanya.

Dengan wajah yang tertunduk tersamarkan oleh beberapa helai rambut yang menutupinya sooyoung keluar dari persembunyiannya.

 

Tangannya yang sedikit gemetar entah karena sebab apa, saling tertaut menyatakan tambahan kekuatan.

 

Kyuhyun hawatir melihat gadisnya seperti itu, gadis polos itu pasti mengira ia akan mencampakannya.

 

Sooyoung memilih duduk di samping appanya sebagai bentuk sikap defensifnya. Jika tidak, mungkin Ia akan berlari dan menubrukan diri pada tubuh tinggi namja dihadapannya dan meyakinkan bahwa apa yang didengarnya adalah sebuah kesalahan. Bahwa cho kyuhyun akan memilihnya dan menolak perjodohan yang orang tuanya atur. Terkesan mengemis, tapi begitulah cinta.

 

Tanpa dinyana, kyuhyun langsung mengambil sikap berlutut dihadapan pangkuan sooyoung. Diambilnya jemari lembut sooyoung dalam rangkuman jemari panjangnya dan mengunci tatapannya pada gadis dihadapannya.

 

Tuan choi cukup maklum dengan situasi yang terjadi. Dulu ia pernah di posisi kyuhyun. Posisi kala ia muda dan sedang mengajukan proposal lamaran pada eomma sooyoung. Dengan begitu ia memilih bangkit dari duduknya dan meninggalkan keduanya.

 

“Choi sooyoung” Kyuhyun membuka sapaan, dikecupnya dengan hati-hati buku jari dari pemilik hatinya itu.

 

“Jangan Kyu. Jangan bilang kau akan meninggalkanku” Sooyoung mulai di liputi emosi kesedihan, kenapa cinta pertamanya tak semulus yang ia impikan.

 

“Tidak akan, jika bukan kau yang minta” kyuhyun tersenyum meyakinkan.

“Lalu? Kenapa kau berlutut seperti ini?” Sooyoung mulai menangis, posisi kyuhyun biasa dilakukan seseorang jika mengharapkan maaf. Cho kyuhyun memohon maaf padanya karena tak bisa memperjuangkan perasaan mereka?

 

“Hari ini aku sudah banyak meminta ‘maaf’ dari appamu. Jadi untukmu choi sooyoung aku ingin meminta jawaban ‘YA’ untuk menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku, bukan pilihan orang tuaku ataupun orang tuamu tapi pilihan hatiku”

 

Kyuhyun sudah cukup yakin dengan lamarannya, meski tanpa cincin dan bunga. Cincin berapa karat pun bisa ia hadirkan jika sooyoung minta. Bunga berapa jenis pun bisa ia hamparkan jika sooyoung menginginkannya. Yang terpenting saat ini adalah keyakinan gadis itu untuk mengatakan ‘YA’ pada lamarannya.

 

Dan penantian itu terasa menyiksa, karena sooyoung hanya membisu dan menatap kearahnya dengan berurai air mata. Apa ia perlu mengulang lamarannya, barangkali sooyoung tak mendengarnya?

 

“Kyu. Cho Kyuhyun” Sooyoung mengulang nama itu sebagai ketetapan dihatinya.

 

“Ya Choi sooyoungku”

 

“Peluk aku. Setelah aku mengatakan ‘YA’!”

 

“Ya?” Kyuhyun mengulang tak percaya.

 

“Ya. Aku mau, aku ingin posisi itu” Sooyoung tersenyum dengan kelegaan dan kebahagiaan disetiap binar matanya. Dengan cepat dikecupnya kening kyuhyun yang masih menggeleng tak percaya dengan kenyataan dihadapannya.

 

Pada dasarnya proposal lamaran antara dua orang yang sudah menjalin perasaan dianggap akan berjalan dengan mudah. Tapi tidak pada perasaan cinta, ia bisa berubah kapan saja dalam menemukan keyakinannya. Bahkan ketika detik terakhir menuju pernikahan, cinta itu bisa hilang begitu saja dan tak berdaya. Dan kyuhyun belum percaya, perasaan sooyoung menemukan keyakinannya pada cinta kyuhyun.

 

Tak mau larut dalam ketidak percayaan, kyuhyun segera bangkit dan mendekap dengan erat tubuh gadisnya. Sementara sooyoung memilih membisikan kata ‘YA’ itu berkali-kali sebanyak yang ia bisa untuk meyakinkan kyuhyun diiringi tawa dan airmata bersamaan.

 

Choi jungnam mengusap setitik cairan bening yang menghangat dipipinya.

 

 

END

 

 

 

 

 

TAPI

 

LANJUT DEH ^^v

 

Seperti rencana kyuhyun semula, ia harus pulang dahulu ke seoul untuk memperjuangkan keinginannya menentukan masa depan sendiri. Dengan bujuk rayu yang alot akhirnya sooyoung mau mengerti dan tak mungkin lebih lama menahan kyuhyun. Walau sebenarnya kyuhyun pun tak mau terlalu lama berpisah dengan gadisnya itu.

 

“Kyu. Kau akan kembali kan?” lagi pertanyaan sama yang ke sekian ditanyakan gadis manis itu ketika menemani kyuhyun mengepak beberapa keperluannya.

 

“Aku akan mengusahakan kembali secepatnya soo. Aku sudah berjanji pada appamu untuk mengabdikan hidup pada perkebunan jeruk dan untuk menjaga putrinya yang manja itu.”

 

Kyuhyun tersenyum jahil dan mengacak rambut sooyoung yang tergerai.

 

“Aku tak manja tuan cho.” Sooyoung mengambil kamera DSLR milik kyuhyun yang telah namja itu tempatkan di atas ranselnya, masih berharap kyuhyun batal berangkat ke seoul sore ini jika kamera kesayangan namja itu ditahan olehnya.

 

“Namanya apa jika menahan kameraku seperti ini, hum?” Kyuhyun berdiri di hadapan sooyoung yang tengah duduk di kasur airnya, kemudian menundukan wajahnya hingga setara dengan wajah gadis di hadapannya yang tengah cemberut maksimal.

 

“Kau boleh memilikinya. Itu penggantiku sementara ketika aku pergi dan pengganti cincin lamaranku”

 

Sebelum bibir mungil sooyoung membuka untuk melancarkan protes, kyuhyun lebih dulu telah menempelkan bibir tebalnya dan sedikit melumat bibir sooyoung yang selalu siap untuknya.

 

Semakin didorongnya tautan bibir mereka sehingga sooyoung terdorong rebah di kasurnya. Tanpa melepas kontak mereka, kyuhyun menaikan tubuhnya melingkupi tubuh sooyoung dibawahnya. Dari posisi seperti ini sooyoung yang memerah pipi dan bibirnya semakin terlihat menggemaskan.

 

Kyuhyun kembali menempelkan bibir mereka dan memutar posisi kepalanya untuk menemukan spot bibir manis sooyoung lainnya. Dengan perlahan pula jemarinya menggapai tangan sooyoung dengan elusan sampai kamera yang dipegang sooyoung berpindah tangan kembali padanya.

 

Kyuhyun dengan ahli men-set mode on pada kamera DSLR nya tanpa meninggalkan sudut bibir sooyoung yang jadi spot favoritenya dan mengambil beberapa jepretan manis kegiatan pertemuan bibir mereka.

 

Keduanya berhenti ketika sooyoung menyentilkan ujung telunjuknya pada kening kyuhyun dan menjauhkan wajah namja itu dari wajahnya.

 

“Curang” Sooyoung mempoutkan bibirnya dan kemudian tertawa melihat tampang acak-acakan -khas pasca ciuman- kyuhyun dan dirinya yang terpantul dari pupil namja itu.

 

Kyuhyun ikut tertawa menyadari kekonyolan mereka dan ikut merebahkan tubuhnya berbantalkan lengan sooyoung.

 

“Aku janji, aku akan segera kembali”

 

 

6 bulan dalam penantian.

 

Musim silih berganti membawa kabar gembira bagi manusia yang mengharap ada kebaikan pada setiap pergantiannya.

Musim panen di Busan sebentar lagi akan tiba dan itu artinya keberkahan yang melimpah dari panen yang sukses akan menghampiri masyarakatnya.

Tapi di sebuah kediaman dengan halaman yang selalu asri oleh tanaman dan dominasi kayu pada bangunannya, tak begitu adanya.

 

Beberapa kali tuan Cho menyaksikan putrinya tengah melamun dalam kemuraman. Walau menjalankan aktifitasnya seperti biasanya dengan berusaha ceria tapi gurat kesedihan di wajah teduhnya tak bisa di sembunyikan bahkan oleh senyuman.

 

Seperti saat ini, putrinya tengah duduk di ruang tamu memegang sebuah kamera yang ia tau persis siapa pemiliknya. Beberapa kali senyum itu muncul namun tak lama tergantikan lelehan air mata di pipi putri kesayangannya.

Cho kyuhyun itu, penyebab semuanya.

 

Setelah kepergian pemuda itu, pada awalnya sooyoung masih menerima kabar pemuda itu baik lewat sambungan telepon ataupun email. Tapi sudah 3 bulan ini, praktis komunikasi diantara mereka terputus sudah. Tak ada kabar.

 

“Sooyoungie,” Choi jungnam mencoba mengalihkan perhatian sooyoung, yang di balas dengan nihil respon dari orang yang dipanggil.

 

“Sooyoungie, kenapa begini?” Dengan sayang tuan choi mengusap lelehan air mata dipipi putrinya, barulah sooyoung seakan tersentak dari lamunannya.

 

“Appa..” sooyoung mengalihkan tatapannya pada pria yang jadi tumpuannya selama kyuhyun pergi.

 

“Ya anakku” Kini ia merasa tak berguna karena bukannya menghentikan air mata putrinya, dirinya malah ikut meneteskan air mata. Kesedihan akan penantian yang sooyoung jalani menembus hatinya.

 

“Appa..dia akan kembali kan?” satu pertanyaan yang ia pun tak tau jawabannya.

Alih-alih memberikan jawaban, tuan choi segera meraih pundak putrinya dan memeluk putrinya dengan kuat.

 

“Maafkan appa, sooyoungie”tuan choi sibuk mengelus punggung sooyoung dengan gusar dan dengan tulus mengumamkan maaf atas kelalaiannya. Kelalaian menjaga air mata anaknya untuk tak menetes sia-sia.

 

“Kenapa appa meminta maaf? Appa seperti kyuhyun saja, selalu minta maaf” sooyoung berusaha tersenyum diantara isakannya. Bahkan pemuda itu memenuhi semua memory otaknya.

 

“Mungkin ini satu-satunya hal berarti yang bisa appa lakukan. Temuilah bibimu di Seoul, mungkin disana kau bisa mencari keberadaan kyuhyun. Fotographer berbakat sepertinya pasti banyak orang yang mengenal. Maaf..maafkan appa” air mata itu tak bisa di bendung lagi dan mengalir dengan derasnya, lebih menyesakan dibanding ketika sang istri pergi untuk selama-lamanya.

 

“Maafkan appa tak bisa menemanimu”

 

Dengan secercah harap dan informasi yang minim tentang kyuhyun, sooyoung berangkat meninggalkan Busan yang tak pernah ia lakukan seumur hidupnya. Pencariannya akan jadi perjalanan yang melelahkan secara fisik dan mental. Tapi sooyoung percaya ia pasti akan menemukan keberadaan Kyuhyun untuk mendengarkan alasannya atau minimal memarahi pemuda itu karena berani menyiksanya dalam kerinduan.

 

~UTSS~

 

Sangat tak terasa, waktu bergulir begitu cepatnya.. Entah berapa alamat studio terkenal yang kaki sooyoung susuri atau berapa agen penerbitan yang sooyoung sambangi, barangkali kyuhyun terdaftar sebagai salah satu staff atau pemiliknya. Tapi sebanyak itu pula, ketiadaan yang sooyoung dapatkan.

 

Seperti disiang hari yang terik ini,entah sudah berapa banyak peluh sooyoung yang menetes dan bercampur dengan debu jalanan bersatu di pakaiannya. Yang pasti sudah hampir 4 jam sooyoung mengitari jalanan yang sama akibat kebutaannya pada tata letak kota sebesar Seoul.

 

Sooyoung memutuskan untuk sejenak rehat dibawah sebuah kursi kayu yang dinaungi pohon rindang sebagai paru-paru kota. Disana mungkin akan bisa sedikit membantunya untuk menghimpun rencana dan tenaga.

 

Sambil menghela nafas dan kemudian menghirupnya kembali dengan dalam-dalam sooyoung mendudukan dirinya dengan nyaman.

 

Hiruk pikuk jalanan Seoul terasa kontras dengan suasana di Busan sana. Walaupun termasuk salah satu kota pelabuhan yang penting bagi kegiatan ekonomi Korea Selatan namun di Busan hiruk pikuk seperti ini terjadi di moment dan jam tertentu saja, sementara di Seoul seakan kota ini tak ada matinya.

 

Beralih dari membandingkan kota asal kyuhyun dan dirinya itu, sooyoung meraih tas lepek yang disandangnya. Dengan cekatan ia mengeluarkan sebotol jus lime yang tadi bibinya bekalkan.

 

Baru seteguk cairan segar itu melalui kerongkongan keringnya, suara panggilan pada ponselnya yang sederhana membuat sooyoung memfokuskan diri untuk mengangkat panggilan itu. Seperti biasa, appanya.

 

“Yeoboseo” sooyoung menyapa masih menggenggam botol jusnya.

 

“Sooyoungie” suara appanya terdengar sedikit ragu.

 

“Nde, appa. Apakah terjadi sesuatu?” entah mengapa sooyoung merasa ada yang tak beres dengan panggilan telepon kali ini.

 

“Kembalilah Soo, pulanglah ke Busan. Kyuhyun..kyuhyun ada di Busan”

 

Botol jus itu terlepas dari genggaman sooyoung begitu saja, isinya yang masih belum habis setengahnya kini menghambur kemana-mana. Sooyoung tak pedulikan lagi sekitarnya, dalam benaknya hanya berfikir bagaimana caranya cepat kembali ke Busan dan menuntaskan kerinduannya.

 

~UTSS~

 

2 Hari sekembalinya Sooyoung ke Busan, pemuda yang teramat dirindukannya itu tak kunjung menunjukan batang hidungnya. Sempat ia mempertanyakan pada appanya, jika kabar kyuhyun telah kembali ke Busan hanya desas desus yang disebarkan oleh para pekerja mereka. Tapi dengan bijak choi jungnam menyuruh sooyoung untuk lebih bersabar sedikit lagi untuk melihat kebenaran kabar sesungguhnya.

 

Sooyoung tak mungkin dengan gegabah mendatangi Villa keluarga Kyuhyun tempat terakhir pemuda itu tinggal untuk berlibur, karena itu sama saja mempermalukan appanya dan mencoreng nama baik keluarganya. Lagipula masyarakat di desanya masih menjunjung nilai-nilai luhur interaksi antara pria dan wanita.

Tepat pada hari ke sekian, tak biasanya seorang tamu yang merupakan salah satu orang kepercayaan yang mengelola Villa keluarga Cho datang berkunjung disaat Sooyoung tengah menyiapkan makan malam didapur rumahnya.

 

Terdengar appanya mempersilahkan orang tersebut masuk dan meminta sooyoung menyiapkan minuman dan beberapa kue kecil.

 

Setelah mengangsurkan 2 cangkir teh krisan dan sepiring kue kecil seperti permintaan appanya, sooyoung kembali berlalu menuju dapur.

 

Tapi karena rasa penasarannya, sooyoung sedikit menajamkan pendengarannya supaya bisa sedikit mengetahui isi percakapan dua orang yang kini tengah bersopan santun mengangkat cangkir masing-masing sebagai penghormatan. Siapa tahu ada sedikit info tentang keberadaan Kyuhyun terselip disana.

 

“Terima kasih atas jamuannya Pak Choi. Maaf berkunjung malam hari seperti ini. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan” Pria yang sooyoung taksir tak jauh usianya dari sang appa itu membuka percakapan.

 

“Jangan sungkan Pak Kim, saya hanya sedikit tak menyangka hal penting seperti apa yang bisa membawa anda kemari?”

 

Kim Jongwon atau oleh masyarakat sekitar sering disapa Pak Kim dikenal sebagai penjaga Villa sekaligus orang kepercayaan keluarga Cho. Turun temuran keluarga Kim mengabdikan dirinya pada keluarga chaebol itu, hingga saat ini Kim Jongwon menjadi generasi ke-3 penerus estafetnya.

 

“Haha saya memang jarang keluar Villa dan berbaur dengan masyarakat disini, wajar saja jika anda kaget dengan kedatangan saya yang tiba-tiba” Satu tegukan teh telah membasahi kerongkongan namja bersorot mata tajam itu. Kemudian dengan sopan, ia letakan kembali di atas nampan cangkir porselen berisi teh krisan itu untuk melanjutkan apa yang ingin disampaikannya.

“Seperti yang sudah anda ketahui, beberapa warga kita sudah menjual tanah perkebunan jeruknya karena ternyata panen kali ini tak semelimpah panen-panen sebelumnya.”

 

Mengetahui kemana arah tujuan percakapan yang akan namja dihadapannya sampaikan, choi jungnam mengeraskan rahangnya dan tangannya mengepal begitu saja hingga buku-buku jarinya ikut memutih.

 

“Apa maksud anda?” kegeraman tak dapat lagi di sembunyikan pada setiap kata yang keluar tegas dari mulut Appa sooyoung tersebut.

 

Tak mau berbasa-basi lagi karena memang bukan gayanya, Kim Jongwon menegakan duduknya yang semula bersandar di kursi dan menatap congak pada lawan bicaranya.

 

“Maksud saya adalah, perkebunan anda yang tak seberapa menguntungkan itu sebaiknya dijual juga dari pada terus menerus memberikan kerugian pada setiap panennya. Dan tuan saya berbaik hati akan membelinya dengan harga yang pantas. Begitu penawaran yang tuan saya sampaikan melalui saya orang kepercayaannya”

 

“Kau..” Choi Jungnam sudah tak bisa lagi menahan kesabarannya pada apa yang dikatakan namja congak dihadapannya. Darah berkumpul di wajah dan ubun-ubunnya menandakan namja bermarga Choi itu marah luar biasa.

 

Perkebunan jeruk yang merupakan warisan turun temurun keluarganya sejak jaman dulu dan merupakan salah satu harta peninggalan yang paling berharga untuknya itu, akhir-akhir panen ini memang sedang mengalami kerugian. Beberapa hektar tanaman jeruknya terkena hama buah yang menyerang daun dan bakal buah jeruk sehingga ketika mendekati masa masak sempurna, buah jeruk itu sudah lebih dulu jatuh ke tanah dan akhirnya busuk.

 

Tapi hanya karena beberapa kali panen yang merugi tak lantas ia tega menjual perkebunan jeruk yang berharga itu. Masih banyak pegawainya yang menggantungkan hidup padanya dan pada perkebunan jeruk itu.

Memang beberapa warga yang asalnya memiliki beberapa hektar perkebunan jeruk disekitar perkebunan keluarga Choi telah termakan bujuk rayu dari pengusaha kota untuk menjual perkebunan mereka dengan iming-iming pembelian tanah yang tinggi dan kompensasi-kompensasi lainnya, Ia juga mendengar kabar perkebunan jeruk mereka nantinya akan disulap menjadi Villa-Villa mewah dan Resort tempat berlibur. Tapi ia tak menyangka jika Kim Jongwon si pengurus Villa ini tega menghianati desa kelahirannya sendiri dengan merusaknya demi keuntungan yang mungkin dijanjikan si tuannya itu.

 

“Kau..dan tuanmu itu tidak akan mendapatkan apa yang kalian inginkan Kim Jongwon~ssi! Kalian harus melangkahi mayatku dulu jika ingin memiliki perkebunanku. Pergi!”

 

Mendengar lengkingan suara appanya yang penuh amarah, Sooyoung segera menghambur dari balik persembunyiannya dan segera menghampiri ruang tamu dimana sang appa dan tamunya berada.

 

Dilihatnya namja yang sangat ia hormati tengah menunjuk pintu keluar dengan tatapan yang masih lurus dan tajam kearah namja yang kini tengah tersenyum remeh seraya bangkit dari duduknya.

 

Sambil menepuk-nepuk jas dan celana yang dikenakannya seakan debu-debu rumah sooyoung sangat menjijikan, Kim Jongwon membalas dengan masih congaknya.

 

“Hah. Dengar pak tua. Kau bisa saja menolak penawaranku hari ini, tapi nanti kau yang akan mengemis-ngemis kepada kami. Kalau-kalau kau berubah pikiran, akan kutinggalkan berkas-berkas penawaran kami disini.”

 

“Pergi!! Bilang pada tuanmu itu, aku tidak akan sudi mengemis padanya. Dan jangan pernah injakan lagi sepatu kalian di rumahku ini!!” bersamaan dengan itu, tubuh ringkih Choi jungnam segera ambruk jika sootoung tak segera menopangnya.

 

“Dasar Tua Bangka keras kepala!!”

Kim Jongwon melangkahkan kakinya keluar pintu rumah sooyoung bersama dengan kepongahannya.

 

 

TBC (Again) ^^v

13 pemikiran pada “[TreeShot] UNDER THE SAME SKY Bag. 2

  1. Makin rumit aja nih keluarga cho pengen beli perkebunannya appa syoo,kyu kmna lg? Semoga kyu bisa nepatin janjinya dan perjuangin perasaannya ke syoo:(. Next jgn lama2 chingu ditunggu hwaiting!!^^

  2. eish si cho itu sbenernya kmn sih, kasian syoo harus nunggu lama…
    duh siapa sih bossnya si kim jongwon itu, keluarga kyukah? heh mkin rumit dan complicated…
    smoga syoo dan appanya diberikan yg terbaik deh…
    next part ditunggu😉

  3. ya ampun jongwon ssi .. .
    kurangasam…
    kasian pan ayah syoo nya dan syoo jg..😥
    kyu menghilang tanpa jejak.. dusekap jgn jgn..
    pan tuan na pk Kim kluarga kyu kan.. ckck..

    lanjut lanjut..
    jangn lma lma ya…😀

  4. Kalau begini keadaannya aku jadi jengkel sendiri sama Kyuppa.
    Sudah menghilang 6 bulan lamanya. Ekh, gak kunjung muncul juga di hadapan Soo eonnie.

    Lanjut chingu. Penasaran tingkat akut nih🙂

  5. hah ??? stlh dtunggu skian lma n part kok jd gni ????
    tmbh ruwet dong hub kyuyoung…
    kmna jga kyu ngilang slma t dan soo nyari gk ktmu2.kya lgu ayu ting2 aj lg “alamat palsu”

    next part akhir dtunggu…
    ak penasaraan gmna pertemuan soo dg kyu stlh brpisah skian lma. dan mshkah appa soo merestui hub mereka stlh mdpt penawaraan dr anak buah kluarga cho

  6. Kyu nya kenapa nggak muncul2? Jangan2 dia beneran bakal di jodohin lagi sama orang lain?
    Inget syo, kyu..astaga..
    Dan itu, kok keluarga cho mau beli perkebunan syo.. Ulahnya ortunya kyu kah? Sengaja buat bikin kyuyoungnya makin renggang gt?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s